Bagaimana sebuah pusat komunitas di Ghent membuka pintunya untuk evangelisasi, musik, percakapan, dan keindahan kebetulan.
Ilse Spiloes berusia 58 tahun dan memimpin pusat komunitas Clemenspoort di Ghent dengan penuh perhatian dan energi. Perjalanannya dimulai sejak awal—selama bertahun-tahun ia bekerja di sebuah sekolah sebagai guru musik dan pembimbing bagi para siswanya, terlibat dalam pendampingan pastoral, pengorganisasian, serta pengembangan format-format kreatif. Ia dibentuk oleh kedekatan awal dengan Kongregasi Redemptoris, khususnya oleh seorang imam yang menganggapnya serius ketika ia masih anak perempuan dan memberinya dukungan.
Kepercayaan dan rasa “terlihat” itu melekat padanya hingga kini. Sekitar delapan tahun lalu, ia menerima undangan untuk bergabung dengan Clemenspoort. Pada mulanya, fokusnya ada pada sisi bisnis proyek ini, tetapi seiring waktu tanggung jawab—dan komitmennya—bertambah. Kini ia memegang gambaran besar: acara-acara, koordinasi relawan, kepemimpinan musikal, jejaring, dan komunikasi. Ia adalah ketua komunitas “open house” ini, namun ia tidak pernah tampak berjarak atau hierarkis. Ia tidak memandangnya semata sebagai pekerjaan, melainkan sebagai komitmen pribadi untuk menjadi rekan dalam misi para Redemptoris.
Clemenspoort adalah tempat yang tidak biasa. Lahir dari semangat Redemptoris dan dibangun melalui kerja sama dengan berbagai mitra, pusat ini mempertemukan hidup bersama, tawaran spiritual, keterlibatan sosial, dan keterbukaan budaya. Gedungnya berlokasi hanya beberapa langkah dari stasiun kereta utama Ghent, Sint-Pieters, dan tidak hanya menampung ruang-ruang acara, tetapi juga co-housing religius, layanan sosial, sebuah kapel, serta bengkel-bengkel. Baik arsitektur maupun kegiatannya mencerminkan tujuan bersama: keterbukaan, keberlanjutan, dan partisipasi.
Ilse berbicara tentang inisiatif yang sangat praktis, seperti Repair Café, tempat para relawan secara rutin memperbaiki barang-barang yang rusak—perangkat, pakaian, dan perlengkapan rumah tangga. Tindakan sederhana, hampir sepele, namun diam-diam membangun komunitas. Atau pertemuan Alpha yang berlangsung selama sepuluh minggu: orang-orang berbagi makanan, menonton video singkat tentang iman Katolik, lalu berbicara bebas tentang pertanyaan, keraguan, dan pengalaman. Tidak ada tekanan, tidak ada dogma. Bagi Ilse, penting agar orang tidak hanya mendengarkan secara pasif—seperti dalam setting gereja tradisional—melainkan menjadi peserta aktif, yang disebut “Murid-Murid Misioner Yesus Kristus”, sehingga mereka dapat membawa suara mereka sendiri ke dalam ruang dan bertumbuh dalam iman. Hal itu juga berlaku untuk musik—bidang tempat ia pertama kali memulai pekerjaannya. Baginya, musik bukan sekadar latar atau hiasan. Musik adalah cara menciptakan suasana, ruang yang menghubungkan orang, yang tetap terbuka terhadap perbedaan dan hal-hal tak terduga.
Ia membagikan kisah-kisah menyentuh tentang momen-momen kecil ketika sesuatu tiba-tiba menyala. Pada suatu perayaan Pentakosta, Clemenspoort mengundang orang untuk makan bersama—bukan hanya untuk hadir, tetapi untuk turut berkontribusi. Para tamu tidak datang dengan tangan kosong; sebaliknya, mereka membawa hidangan untuk dibagikan. Pada akhirnya, dua lemari es penuh dengan makanan yang disiapkan oleh komunitas. Bagi Ilse, ini menjadi tanda bahwa tanggung jawab telah bergeser—dari tuan rumah kepada orang-orang itu sendiri. Pergeseran yang tampak kecil seperti inilah yang ia perhatikan dengan saksama, karena menunjukkan bahwa orang mulai melihat ruang itu sebagai milik mereka.
Serendipity—kebetulan yang membawa kebaikan—memegang peranan penting dalam pekerjaannya. Ketika pusat itu tiba-tiba membutuhkan bantuan untuk memperbarui situs webnya, seorang pria berusia 36 tahun menghubunginya—seolah muncul entah dari mana—dan menawarkan diri untuk menanganinya. Ilse tidak melihat momen seperti itu sebagai kebetulan belaka, melainkan sebagai bagian dari sebuah gerak yang tidak bisa dipaksakan, hanya bisa disadari. Baginya, Clemenspoort adalah tempat yang memberi ruang bagi gerak-gerak semacam itu. Ia tidak percaya pada program yang kaku, melainkan pada pendengaran yang penuh perhatian dan berbagi dengan terbuka. Inilah yang membuat tempat itu unik: ia tidak pernah benar-benar “selesai”, tetapi tetap—dalam arti terbaik—sebuah karya yang terus bertumbuh.
Yang mendorong Ilse bukanlah visi yang megah, melainkan keyakinan yang tenang: bahwa orang-orang mencari komunitas—bahkan di kota yang sekuler dan bergerak cepat seperti Ghent. Clemenspoort, katanya, bukan hanya proyek misioner, melainkan ruang resonansi—terbuka bagi orang beriman, para pencari, dan mereka yang ingin tahu. Siapa pun yang melangkah masuk tidak seharusnya merasa diceramahi, melainkan disambut. Dan mereka yang bertahan melakukannya bukan karena aturan, tetapi karena relasi.
Dalam percakapan, terasa kehangatan Ilse Spiloes, ketenangannya, dan keteguhan hatinya yang sunyi. Pekerjaannya di Clemenspoort bukan sekadar profesi, melainkan ungkapan komitmen batin yang mendalam: bahwa menciptakan ruang bagi orang lain itu bermakna. Ruang di mana musik dapat terdengar, di mana orang mendengarkan, tertawa, memperbaiki barang, makan bersama—dan semoga merasakan sesuatu yang sering hilang dalam riuhnya kehidupan sehari-hari. Ini bukan tempat yang bising. Tetapi tempat yang terang.
Alpha adalah langkah awal — dan Clemenspoort adalah tempat di mana kebersamaan tumbuh: dengan musik, percakapan terbuka, dan ruang bagi kebetulan yang indah. Mampirlah dan temukan apa yang baik untukmu.
Kenali Clemenspoort